Dari semua judul sibuta dari goa hantu cerita yg paling berkesan dan bagus salah satunya adalah Prahara di Donggala, disini kejeniusan Ganesh Th membuat ide cerita bukan isapan jempol belaka tapi juga dari hasil riset, buktinya adalah sebagai berikut ketika halaman pertama dibuka dengan narasi dan gambar indah kota Donggala.


Kerajaan Pudjananti, salah satu dari tiga kerajaan terbesar di Sulawesi Tengah selain Banggai dan Sigi, pada masa silam. Pudjananti yg sejak abad ke-14 Masehi berganti menjadi Kerajaan Banawa dan beribukota di Donggala terkenal sebagai kerajaan yang amat makmur berkat sektor perdagangannya kala itu.
Pelabuhan Donggala memang pernah menyandang predikat sebagai bandar dagang terbesar dan teramai di Celebes, bahkan pernah nyaris direbut Portugis kendati gagal, serta akhirnya dikuasai Belanda kemudian beralih ke Jepang.
Lokasi Donggala yg strategis, terletak di tengah jalur niaga Selat Makassar, membuatnya cukup mudah diakses dari utara, termasuk oleh para pelaut Cina, yg hendak menuju Makassar dan Jawa atau sedang dalam perjalanan pulang dari Sumba dan Timor.
Salah satu daya tarik Banawa dengan Donggala-nya adalah pohon cendana. Donggala merupakan penghasil komoditas yang sangat laku dan berharga mahal di pasaran Eropa itu.
Buku berjudul “Donggala Dalam Jalur Perdagangan Kopra: 1907-1942” ini membahas peran Donggala dalam perdagangan kopra dan peran perdagangan kopra terhadap kebudayaan orang Donggala. Sebagai jalur pelayaran yg menghubungkan Makassar di selatan, Kalimantan di barat dan Sulu dan Mindanau di atas, Donggala sudah dikenal sejak jaman dulu kala. Dalam catatan Tomme Pires, Donggala sudah disebutnya. Meski demikian buku ini membatasi pada periode dimana Belanda berkuasa di Donggala. Setidaknya Belanda telah secara resmi memiliki hubungan dagang dengan Kerajaan Banawa di Donggala pada tahun 1907 sampai berakhirnya kekuasaan Belanda di Donggala pada tahun 1942.