Umar Nur Zain layak dikenang sebagai satu dari penulis yg kuat di negeri ini. Memang, ia tak sampai membuat karya yg lantas menuai pujian atau penghargaan sastra. Namun kritik sosial yg dibungkus humor, cerita segar dan kadang2 seks secara halus merupakan keunggulan dari penulis ini. Salah satu karyanya “Belantara Ibu Kota”, ibu kota adalah belantara yg dipupur bedak. Di luarnya saja tampak mewah dan glamor, tapi sebetulnya amoral sekaligus hampa, tak berhati dan keji. Dan tergambar di salah satu seting lokasinya.
Kasino Copacabana merupakan salah satu kasino yg bergengsi pada masa itu. Copacabana Casino berada persis di sebelah Hotel Horison (kini Mercure Convention Center Ancol). Kasino ini bahkan memiliki ruang khusus VIP yg tentunya hanya pejudi kelas atas yang boleh diizinkan masuk.
Kisah kota Jakarta yg pernah memiliki kasino berawal pada saat pemerintahan Gubernur Ali Sadikin yg menjabat antara tahun 1966 hingga 1977, di awal pemerintahannya kala itu, Ali Sadikin terkejut ketika mengetahui APBD DKI Jakarta hanya sebesar Rp66 juta. Itupun sudah termasuk hasil pungutan pajak daerah dan subsidi dari pemerintah pusat. Sekda DKI Jakarta kala itu, Djumadjitin lalu menunjukkan padanya Undang-Undang No. 11 Tahun 1957 tentang Peraturan Pajak Daerah. Undang-Undang ini membuka peluang bagi Pemda untuk memungut pajak atas izin perjudian. Dari sini, sebuah jalan pun terbentang lebar bagi pemerintahan Ali Sadikin. Sebagai langkah awal, pada tanggal 26 Juli 1967, Ali Sadikin mengeluarkan Surat Keputusan yg melarang semua perjudian gelap di wilayah DKI Jakarta. Tak lama setelah SK itu terbit, hanya berselang dua bulan, Jakarta pun mencatat sejarah dengan berdirinya kasino pertama di kawasan Petak Sembilan No. 52, Jakarta Barat.
Otomatis kebijakan Ali Sadikin tersebut langsung ditentang banyak pihak. Ia pun kemudian mendapat julukan sebagai “Gubernur Judi” hingga “Gubernur Maksiat”. Akan tetapi sebagai orang nomor satu DKI Jakarta itu bergeming. Ia percaya bahwa dia memiliki landasan hukum yg jelas.
Selain kasino di bilangan Petak Sembilan, beberapa kasino lain pun menyusul dibuka, seperti Hailai Casino yang dibangun pada tahun 1971 dan Copacabana Casino yang dibangun pada tahun 1975 di kawasan Ancol, Jakarta Utara. Konon katanya, kasino ini adalah hasil kerja sama dengan Stanley Ho, pengusaha tajir asal Hong Kong yng terkenal sebagai Raja Judi di Makau.
Akan tetapi, setelah masa jabatan Ali Sadikin berakhir pada 1977, para pengusaha judi pun bak kehilangan “pelindung” utamanya. Akibatnya pada April 1981, Copacabana Casino di Ancol pun ditutup untuk selamanya oleh Gubernur Tjokropranolo. Alasannya, "Ini sudah perintah Pak Harto. Judi harus dihapus, bukan dialihkan ke tempat lain," katanya, seperti dikutip majalah Forum Keadilan, edisi Agustus 1995. Kasino-kasino lain pun menyusul ditutup. Tetapi Hailai bernasib berbeda. Kasinonya memang ditutup, tetapi bisnis klub malamnya masih sempat berkibar.