Tama, 'super manajer stasiun'
Sumber:
BBC Indonesia

Kisah ini bermula pada akhir tahun 1990-an dengan seekor kucing kembang telon betina cilik bernama
Tama. Kucing itu tinggal di dekat
Stasiun Kishi - stasiun terakhir dari 14 perhentian pada jalur sepanjang 14,3 km yang menghubungkan desa-desa kecil ke Kota Wakayama, pusat daerah itu - dan seringkali nongkrong di pinggir rel, menarik perhatian para penumpang kereta.
Pada pertengahan tahun 2000-an, sepinya penumpang dan masalah keuangan membuat jalur kereta pedesaan itu terancam ditutup, dan akhirnya rute dengan 14 stasiun itu benar-benar berhenti beroperasi pada tahun 2006
Seorang pemilik toko serba ada di dekat Stasiun Kishi, yang biasa merawat
Tama, memutuskan untuk pindah; namun ia meminta perusahaan kereta api untuk merawat kucing itu sebelum ia pergi.
Tama sangat disayangi penumpang dan pegawai stasiun sampai-sampai potret lukisannya langsung diproduksi, dan kini digantung bersama dengan sejumlah foto dirinya di toko suvenir
Stasiun Kishi — di mana pengunjung bisa membeli segala sesuatu bertema Tama, dari lencana dan gantungan kunci hingga permen Tama.
Sebagai pengganti 'gaji', Tama mendapat semua makanan kucing yang ia butuhkan. Ia menerima kenaikan jabatan juga: pada tahun 2008, ia menjadi
'super manajer stasiun' dan diberi gelar kebangsawanan oleh gubernur prefektur di sana.
Berkat bantuan sang 'manajer berkumis', perusahaan Kereta Listrik Wakayama menyatakan bahwa jumlah penumpang tahunan Jalur Kishigawa telah meningkat hingga hampir 300.000 orang dari tahun 2006. Akhirnya keputusan menutup stasiun dibatalkan karena permintaan masyarakat, semua berkat
Tama.
Penerus2 Tama:
Nitama
Sun-tama-tama
Yontama
Gotama (Tama ke lima)