Hobi: Baca Buku

Fenomena menumpuk buku itu sendiri dalam bahasa Jepang dinamakan Tsundoku yang memiliki arti ‘Keadaan dimana seseorang memiliki atau menumpuk banyak buku, akan tetapi tidak dibaca’.
Istilah "Tsundoku" muncul di media cetak sekitar tahun 1879. Di Jepang, istilah ini pada awalnya digunakan sebagai sindiran terhadap guru-guru yang memiliki banyak buku tetapi tidak sempat membacanya. Namun, dalam perkembangannya, tsundoku tidak lagi memiliki konotasi negatif. Sebaliknya, semakin banyak orang yang mulai melihat nilai dari kebiasaan ini, terutama dalam kaitannya dengan upaya meningkatkan literasi dan pengetahuan. Menumpuk buku yang belum dibaca sebenarnya dapat menciptakan ruang intelektual yang memungkinkan seseorang untuk terus berkembang dan memperkaya dirinya.
View attachment 27929

Dalam buku The Black Swan dikenal konsep anti-library yg menunjukkan bahwa buku-buku yg belum dibaca memiliki nilai sangat besar karena mereka mewakili semua hal yg belum kita ketahui. Dengan melihat koleksi buku yg belum dibaca di rak, kita diingatkan akan betapa banyak hal yg belum kita pelajari, sehingga mendorong rasa ingin tahu dan semangat untuk terus belajar.

Dengan memadukan konsep tsundoku dan anti-library, kita bisa memahami bahwa kebiasaan menumpuk buku yang belum dibaca tidak perlu dianggap sebagai beban atau sumber rasa bersalah, melainkan sebagai sumber motivasi untuk terus belajar.
Kebiasaan literasi yang baik bukan hanya tentang seberapa cepat kita bisa membaca buku, tetapi juga tentang bagaimana kita mempertahankan minat baca secara konsisten sepanjang hidup. Tsundoku memainkan peran penting dalam hal ini dengan menjaga kehadiran buku di lingkungan kita sehari-hari, meskipun belum dibaca. Kehadiran buku fisik ini menjadi pengingat visual untuk terus membaca dan memperluas pengetahuan.
Tsundoku bukanlah tanda kegagalan atau kemalasan dalam membaca, melainkan cara untuk meningkatkan literasi, memperluas wawasan, dan menjaga semangat belajar yang berkelanjutan. Dengan mengadopsi kebiasaan ini, kita tidak hanya memperkaya koleksi buku kita, tetapi juga memperkaya diri kita sendiri dengan berbagai ide, perspektif, dan pengetahuan baru.
Salam literasi sejuta referensi
Nampaknya saya juga sekarang masuk dalam kategori Tsundoku ini, suka mengumpulkan buku tapi ga ada waktu untuk membacanya. 😅
Sempat berapa kali datang ke event obral cuci gudang gramedia, stok buku yg ga laku di gudang mereka di jual seharga 2000-5000 perbuku. bikin kalap borong buku padahal bukan termasuk buku dengan topik yang terlalu di suka.
Sekarang jadi bingung juga menyimpan buku yg semakin banyak, padahal tempat yg ada juga terbatas. Karena itu sekarang saya lebih banyak berburu buku dalam bentuk digital yg lebih mudah disimpan.

Semoga suatu saat nanti saya akan punya lebih banyak waktu untuk membaca koleksi buku yg sudah menumpuk tak tersentuh..

SAVE_20250914_204806.jpg
 
Liburan sering dianggap sebagai momen pelarian dari tekanan hidup. Banyak dari kita memilih untuk melakukan liburan ke tempat2 yg tenang gunung, pantai, hingga luar negeri dengan harapan semua rasa lelah, sedih, dan stres bisa hilang begitu saja. Tapi anehnya, setelah kembali dari liburan, kenapa perasaan cemas, overthinking, atau masalah lama justru muncul lagi?
Liburan memang ampuh untuk meredakan stres sesaat. Namun, banyak masalah internal berasal dari konflik yg belum selesai baik itu trauma, ekspektasi, atau tekanan dari dalam diri sendiri. Saat liburan, kita hanya memberinya jeda, bukan solusi. Begitu rutinitas dimulai kembali, semua hal yg belum terselesaikan ikut kembali.
Kita sering memberikan ekspektasi yg besar bahwa liburan akan “menyembuhkan” semua luka batin. Padahal, penyembuhan emosional butuh proses panjang, bukan hanya satu-dua hari di tempat wisata. Ketika kenyataan tak sesuai harapan, muncul rasa kecewa, bahkan lebih berat dari sebelumnya.
Yg sering terlupakan adalah liburan sesungguhnya justru dimulai ketika kembali dari liburan. Di sinilah kita diuji apakah kita bisa menerapkan ketenangan yg didapat saat trip ke dalam kehidupan nyata. Gunakan liburan sebagai momen refleksi, bukan sekadar pelarian, perilaku dan kebiasaan mencari hiburan, mau tidak mau, secara perlahan membentuk masyarakat yg reaktif, bukan reflektif.
Membaca dapat dijadikan alternatif sebagai hiburan, membaca, sama halnya kita berinteraksi dengan orang. Memang bukan interaksi langsung, namun interaksi dengan gagasan, pemikiran, serta cerita yg dikarangnya. Membaca termasuk bagian penting dari olahraga otak, piknik gagasan karena kita bisa ‘bepergian’ dari gagasan satu ke gagasan lain yg berbeda, hingga pemikiran ilmiah.
Semuanya menghibur, tinggal bagaimana kita menempatkan dan mempersiapkan diri. Jika masih belum punya ngeh untuk membaca buku, bisa dimulai dari membaca artikel singkat atau setidaknya baca komik2 di zona djadoel. Cara itu ampuh untuk melatih diri suka membaca, daripada melakukan liburan tapi perjalanan macet, kusut, kesal, tempat hiburan terlalu ramai, uang habis dsb, bukankah lebih baik dimanfaatkan untuk membaca? Demi tegaknya kegemaran membaca dan budaya literasi di masyarakat. Salam literasi sejuta referensi.
 
Sebagai salah seorang pelopor kajian filsafat dan pemerhati sastra, Jakob Soemardjo dalam suatu kesempatan wawancara, mengatakan "untuk merangsang minat baca masyarakat pada karya sastra di tengah dahsyatnya pengaruh tayangan media televisi dan gadget dewasa ini, sudah saatnya dipikirkan untuk menerbitkan karya2 sastra dengan daya tarik (format) yg bagus, semenarik mungkin, guna menandingi/mendekati daya tarik dari media televisi itu tadi. Sebagai contoh novel “Siti Nurbaya” misalnya, kalau novel itu mau diterbitkan kembali haruslah dibuat formatnya begitu rupa agar tampak semenarik mungkin. Kalau perlu bikin ilustrasinya yg bagus. “Meski kehadiran ilustrasi itu bukan sesuatu yg esensial, tapi saya kira hal itu perlu untuk menandingi daya tarik media televisi itu tadi. Dengan demikian diharapkan agar masyarakat masih berminat membeli dan membaca buku2 karya sastra yg bernilai tinggi itu,” ia menyarankan.
Kalau bagi kita mungkin ilustrasi itu tidak begitu perlu. Tetapi bagi orang lain, saya kira masih diperlukan ilustrasi itu guna memasyarakatkan sastra di tengah pesatnya kemajuan media televisi dewasa ini. Karena bukan mustahil dengan melihat daya tarik ilustrasinya, tentu minat mereka untuk membaca bukunya akan bangkit pula dengan segera,” tutur Jakob lagi.
Jakob mencoba menawarkan solusi ditengah maraknya masyarakat dikalangan remaja maupun dewasa yg kurang minati atau tertarik dengan adanya karya sastra. Membaca karya sastra sering dianggap sebagai aktivitas berat, membosankan, dan tidak praktis. Banyak orang lebih memilih menonton ringkasan video / sinopsis ketimbang membaca teks panjang. Di sinilah sastra sering menjadi korban. Novel, cerpen, puisi, atau esai sastra dianggap terlalu “berat”, penuh simbol, dan tidak langsung memberi manfaat praktis. Sastra kalah bersaing dengan konten yg instan dan mudah dicerna. Akibatnya, muncul pertanyaan besar: jika minat baca rendah, apakah sastra masih punya tempat?
Sastra sebenarnya justru menawarkan sesuatu yg langka: ruang untuk berhenti dan berpikir. Sastra tidak menuntut pembacanya untuk cepat, tetapi untuk hadir sepenuhnya. Ketika membaca cerpen atau novel, kita diajak masuk ke dalam sudut pandang orang lain, merasakan emosi yg mungkin belum pernah kita alami. Inilah kekuatan sastra yg sering diabaikan. Sastra melatih empati. Di lingkungan sosial semakin tajam dan orang mudah saling menghakimi, kemampuan untuk memahami sudut pandang lain menjadi sangat penting. Sastra tidak memberi jawaban instan, tetapi mengajukan pertanyaan2 mendalam tentang hidup dan kemanusiaan.
Sastra seharusnya diajarkan sebagai ruang dialog, bukan sekadar objek ujian. Membaca sastra bukan tentang mencari makna “yang benar”, tetapi tentang merasakan dan menafsirkan. Ketika siswa diberi kebebasan untuk berpendapat, sastra bisa menjadi alat refleksi yg sangat kuat. Di tengah berbagai krisis sosial, moral, dan identitas sastra justru semakin penting. Sastra mencatat apa yg sering luput dari laporan berita: suara orang kecil, luka batin, dan konflik batin manusia. Sastra tidak selalu menawarkan solusi, tetapi membantu kita memahami kompleksitas masalah.
Di tengah dunia yg menuntut segalanya serba cepat, sastra mengajak kita melambat. Dan barangkali, di situlah letak relevansinya hari ini sebagai pengingat bahwa menjadi manusia bukan hanya soal produktivitas, tetapi juga soal perasaan, pemahaman, dan empati.
Salam literasi sejuta referensi.
 
Back
Top