Dulu lebih bagus/mewah...

menarik sekali koh @Feffendy (y)(y)
...jadi jelas ini alasan mengapa kaleng milo ini dijadikan semacam simbol prosperity/keberuntungan.
Saya baru ingat semasa kecil dulu di toko2 kelontong juga sering digunakan kaleng/ember gantung spt ini sbg alat untuk menampung uang yang ditransaksikan di toko itu. Begitu ada transaksi, kaleng ditarik ke bawah, uang hasil penjualan dimasukkan dan uang kembalian tinggal diambil dari situ. Memang uangnya jadi campur aduk dan berantakan, mgkn setelah tutup toko baru dikeluarkan, dirapikan dan dihitung.
Tapi kaleng Milo dengan tulisan semacam doa untuk kelancaran usaha ini memang baru kali ini saya lihat. Mungkin Milo sendiri juga gak bakal nyangka kalengnya bakal digunakan sebagai simbol penglaris di sebuah/beberapa toko. Atau mgkn banyak toko? ;)
 
Technicolor tiga jalur di film2 Hollywood th 50an membuat warna film yg vibrant (terlihat lebih mewah dibanding film yg dibuat stlh th 90an dg warna digital). Selain itu u/ pembuatan film2 era tsb (50-70an) warna2 dipilih secara khusus dan konsultan dipekerjakan studio film u/ mengatur warna set, pakaian, pencahayaan dan make up aktor/aktris. Ini sebenarnya jadi agak mirip kasusnya dg komik/ilustrasi buku ya, yg zaman dulu lebih mewah dan dibuat dengan mahal.

penerbit2 sekarang bikin buku dongeng anak, ilustrasinya kok banyak yg manga atau gambar buatan komputer ya ... semoga besok2 ada yang bikin buku dongeng anak Indonesia (cerita rakyat Indonesia) dengan gambar yang super bagus.

Technicolor tiga jalur (dikenal sebagai Three-Strip Technicolor) adalah proses pembuatan film berwarna yang diperkenalkan pada tahun 1932. Teknologi ini mendominasi industri perfilman Hollywood dari pertengahan 1930-an hingga awal 1950-an, menghasilkan gambar dengan warna yang sangat jenuh, kaya, dan ikonik seperti dalam film The Wizard of Oz. [sumber: AI]
Log in or register to view this content!
 
Back
Top