Buku Sastra Khatulistiwa

Karya Motinggo berjudul Debu-Debu Kalbu penerbit Kartini Group tahun 1980
1769227946825.png
Ketika membuka lembar pada halaman awal novel “Debu-Debu Kalbu” tertulis "Wahai jiwa yang tenang, kembalilah engkau pada Tuhanmu, dengan ridho dan diridhoiNya" waktu itu terbayang bagaimana seorang penulis yg terkenal di tahun 60-70 an banyak menulis karya sastra atau film yg lebih banyak menonjolkan seksualitas bisa berubah haluan menjadi penulis yg religius, serius, penuh hikmah dan nasihat.
 
Umar Nur Zain layak dikenang sebagai satu dari penulis yg kuat di negeri ini
Sebenarnya banyak karya Zain yg terkenal, seperti Nyonya cemplon, Dokter Anastasia, Bu Guru Dwisari dan masih banyak lainnya, tapi untuk "Belantara Ibu Kota" disini terlihat yg dimaksud penulis kuat itu. Adalah dalam penggambaran plot cerita begitu kompleks dan bagi yg membacanya akan terhanyut dalam aliran itu, mengalir tanpa terasa, asik terbuai dengan kritik sosial yg dibungkus humor segar.
Puncak konflik ceritanya bisa terjadi beberapa kali dan semua tokoh terlibat dalam konflik tersebut, meski akhirnya tokoh utama harus pergi meninggalkan belantara ibu kota. Tidak betahkah ? pergi seperti seorang pengecut? atau ..... meninggalkan lingkungan tersebut demi kebaikan dan keselamatan diri sendiri? terserah semua dikembalikan ke opini pembaca.
1769534880184.png
 
novel Seribu burung layang layang di Tangerang
Judul novel yg bagus dan puitis secara signifikan dapat meningkatkan minat baca dengan memicu rasa penasaran bagi para pembaca, seperti contohnya Seribu burung layang-layang di Tanggerang, penulisan dapat diperbaiki seharusnya Tangerang meski dibacanya Tanggerang.
Itu akan terdengar mirip dengan Seribu kunang-kunang di Manhattan karya Umar kayam, tentu saja tema cerita kedua novel itu berbeda hanya, persamaannya judulnya melibatkan hewan dan nama tempat, apalagi hewannya banyak mencapai seribu, entah kenapa dipilih seribu kenapa nggak seratus, sejuta, semilyar klo menurut gw seribu terdengar enak saja ditelinga, tapi kalo soal doku ya nggak enak mending semilyar.
Novel ini tergolong novel populer yg ditulis oleh Sribekti Subakir seorang dokter, sama halnya dengan Marga T. Jadi wajar kalo kita membacanya segala istilah2 tentang kedokteran tersaji di novel ini. Novel Seribu burung layang-layang di Tangerang merupakan pemenang kedua hasil sayembara majalah Femina.
Berkisah tentang seorang dokter muda Isti dimana burung2 itu adalah gambaran dari kegelisahan hati Isti yg kesepian ditinggal sang kekasih. Tapi lagi2 sang pengarang nantinya akan memberikan pengganti kekasih yg baru untuk Isti dan cerita berakhir happy ending, dah selesai....
Tidak ada yg istmewa dari cerita dalam novel ini tapi setidaknya kita bisa mendapatkan informasi2 baru tentang istilah kedokteran yg dijumpai di akhir novel.
1771127433528.png
 
"Perjanjian Dengan Maut"
Apa yg menarik dari novel karya Harijadi S. Hartowardojo yg terbit pertama kali tahun 1976 oleh Pustaka Jaya adalah tema ceritanya yg memadukan antara aksi perang, kekuatan gaib serta cinta sumpah setia. Semua mendapatkan porsi sebanding yg sama2 kuat. Peristiwa pelarian dari tentara Jepang sampai ketemu Nyi roro kidul menjadikan cerita begitu menarik untuk diikuti, bahkan mungkin layak difilmkan. Sebagai novel sastra serius yg memiliki bobot, novel ini memiliki tema yg tak mudah untuk dipahami karena butuh pembacaan berulang2 agar bisa dimengerti, meski begitu maksud tema bisa berbeda2 tergantung pendapat pembaca mengartikan maknanya.
1771173096570.png
 
1772350385139.png
Dan Terhamparlah Darat yang Kuning Laut yang Biru, judul novel yg berasa seperti penggalan puisi
Judul novel yg unik, puitis dan menarik adalah gerbang pertama yg menentukan minat para pembaca. Dalam dunia penerbitan, judul berfungsi sebagai magnet, dan representasi isi buku yg menyita perhatian pembaca secara langsung. Tapi bagaimana jika judul novel tidak mewakili plot cerita? bisa jadi merupakan strategi penulis untuk membangkitkan rasa ingin tahu dan penasaran tentang isi cerita yg ingin disampaikan.
Seperti Novel "Dan terhamparlah darat yang kuning, laut yang biru ......" Aoh K Hadimaja kebetulan juga gemar menulis puisi (sajak). Novel yg terbit tahun 1975 oleh Pustaka Jaya setebal 78 halaman ini tergolong novel berasa cerpen tapi sedikit panjang. Novel ini dibuat setelah sekembalinya Aoh dari negara Belanda, Inggris dan Malaysia. Dengan setting lokasi di Belanda mengangkat tema pergaulan bebas dengan latar belakang budaya barat masa kini. Aoh mencoba mengupas masalah dalam cerita ini dari sudut pandang kebudayaan, bukan dari moral dan agama, sebab tidak ada kalimat2 menggurui didalam ceritanya, Aoh hanya menceritakan saja, para pembaca dituntut untuk mengambil opini sendiri setelah membaca novel ini.
 
Yudhistira ANM Masardi juga menulis lirik untuk lagu "Perjalanan" yg dinyanyikan Franky & Jane
Lagu “Perjalanan” karya Franky dan Jane menghadirkan kereta malam sebagai simbol yg sarat dengan makna sosiologis. Kereta malam dalam lagu ini bukan sekedar alat transportasi, melainkan wadah yang menyimpan kerinduan, kesedihan, dan refleksi tentang ikatan keluarga, kehilangan, serta kesamaan yg tak terduga.
Tapi secara makna mendalam "perjalanan" sesungguhnya adalah metafora kehidupan, perjalanan yg tak ada sampai garis finishnya. Karena pada kata pergi, kita menemukan makna kembali atau pulang, sebagai sebuah rute baru untuk melangkah pada tujuan berikutnya, yg menemukan kita pada misteri berikutnya.
Seperti pada novel "Perjalanan Hitam" karya Muspa Edow (Muhammad Said Paggo) yg diterbitkan pada tahun 1979 oleh Pustaka Jaya dengan tebal 116 halaman. Hal 117 adalah keterangan kata2. Plot ceritanya tergolong sederhana, "seorang pemuda yg dijebloskan kedalam tahanan karena tuduhan palsu, cerita berkembang dengan menampilkan peristiwa dan adegan yg bisa ditemukan dalam realita kehidupan. Muspa termasuk berhasil dengan baik menyampaikan pesan moral didalam plot cerita yg disusunnya. Disini dapat disimpulkan berpikir jernih dan positif dapat membantu kemampuan untuk memecahkan masalah yg lebih baik, keinginan untuk melampiaskan dendam yg bisa berujung di penjara lagi akhirnya tidak jadi dilaksanakan. Memaafkan meski difitnah, dizolimi adalah salah satu akhlak tertinggi yg menunjukkan kekuatan mental dan ketakwaan seseorang.
1772358738563.png
 
Back
Top