Asal Usul
Lontong Cap Go Meh, Akulturasi Indonesia, China, dan Arab (sumber:
kompas)
Menurut Peneliti Batik Peranakan China, Notty J. Mahdi,
lontong cap go meh mulai muncul sebelum perang dunia kedua pada 1939. Konon, kemunculan lontong cap go meh bermula dari akulturasi budaya-budaya China, Arab, India di Indonesia.
Orang China membuat soto yang dimasak menggunakan kaldu kuah babi. Namun, tetangganya yang merupakan seorang Muslim, tertarik mencicipi soto tersebut. Pemilik soto lantas mengganti penggunaan tulang babi dengan ayam agar sang tetangga bisa merasakan kenikmatan soto tersebut. "'Besok saya cari (daging) ayam atau sapi, kamu saya bikinin soto'," kata Notty saat menirukan percakapan masyarakat China dan Muslim,
Kisah tersebut berlanjut saat orang Arab datang dan membawa
bubur lodeh yaang saat itu populer di Semarang. Saat bertemu dengan kenalannya asal India, teman orang China tersebut juga menyampaikan hal serupa. Orang Arab dan India ingin diundang ke pesta makan-makan yang digelar orang China.
Orang China, Arab, dan India lantas berada di satu momen berkumpul. Orang Arab membawa bubur lodeh, orang India membawa
kari yang menyerupai opor ayam, dan orang China mengolah beras menjadi
lontong. Orang Indonesia lantas menyarankan
sambal goreng sebagai komponen pelengkap hidangan tersebut. Orang Indonesia juga menyarankan penggunaan jeroan berupa
ati ampela sebagai pengganti daging sapi. "Dari sana, ditambah lagi pelengkap
koya, kerupuk, dan lainnya," kata Notty. Kini, komponen lontong cap go meh berkisar 13-15 bahan yang terdiri dari
lontong, sayur lodeh labu siam, ati ampela, sambal, telur, tahu, dan kerupuk udang.
"Makan lontong cap go meh itu komponennya harus lengkap. Kalau tidak, konon, rezekinya tidak komplet," pungkas Notty.
