- Joined
- Jan 22, 2017
- Messages
- 459
- Gender
- Male
Sobat ZD
Masih ingat masa ketika hidup kita belum serba online seperti sekarang?
Dahulu
Kalau mau mencari informasi, ya buka buku, surat kabar, majalah, atau bertanya langsung ke sumbernya.
Kalau ingin tahu kabar teman, harus benar2 bertemu atau menelepon ke rumahnya.
Janjian harus jelas waktu dan tempatnya.
Tidak ada shareloc, tidak ada chat “OTW”.
Kalau terlambat, ya semoga saja temannya masih menunggu.
Hiburan pun mengikuti jadwal.
Menonton TV harus sesuai jam tayangnya.
Kalau terlewat, ya menunggu minggu depan.
Foto bukan hal sepele.
Pakai kamera, menunggu dicetak.
Dan setiap lembar terasa berharga.
Kalau ingin belanja, ya benar-benar datang ke pasar atau toko.
Pilih barang langsung, tawar-menawar, lalu bawa pulang sendiri atau pakai jasa becak.
Tidak ada keranjang kuning, tidak ada “checkout”.
Kalau lapar, ya keluar cari makan atau masak sendiri.
Mau bepergian harus datang ke pangkalan ojek atau becak, atau menunggu taksi di pinggir jalan.
Belum ada aplikasi yang tinggal pesan, lalu makanan atau jemputan datang sampai depan rumah.
Sore hari terdengar suara anak-anak bermain di luar.
Ngobrol itu tatap muka.
Silaturahmi itu benar-benar datang ke rumah.
Sekarang hampir semua bisa dilakukan dari genggaman tangan.
Kalau kangen bisa video call, bahkan bisa “stalking”.
Belanja cukup lewat aplikasi.
Nonton acara kesukaan tidak harus nunggu hari dan jam tayang.
Lapar tinggal pesan makanan, tidak perlu keluar.
Bayar tagihan, kirim uang, bahkan urusan kerja pun banyak yang serba online.
Menurut Sobat ZD,
Apakah hidup sebelum semua serba online terasa lebih sederhana dan hangat?
Atau justru sekarang jauh lebih praktis dan memudahkan?
Silakan berbagi cerita dan kenangan masing-masing
Masih ingat masa ketika hidup kita belum serba online seperti sekarang?
Dahulu
Kalau mau mencari informasi, ya buka buku, surat kabar, majalah, atau bertanya langsung ke sumbernya.
Kalau ingin tahu kabar teman, harus benar2 bertemu atau menelepon ke rumahnya.
Janjian harus jelas waktu dan tempatnya.
Tidak ada shareloc, tidak ada chat “OTW”.
Kalau terlambat, ya semoga saja temannya masih menunggu.
Hiburan pun mengikuti jadwal.
Menonton TV harus sesuai jam tayangnya.
Kalau terlewat, ya menunggu minggu depan.
Foto bukan hal sepele.
Pakai kamera, menunggu dicetak.
Dan setiap lembar terasa berharga.
Kalau ingin belanja, ya benar-benar datang ke pasar atau toko.
Pilih barang langsung, tawar-menawar, lalu bawa pulang sendiri atau pakai jasa becak.
Tidak ada keranjang kuning, tidak ada “checkout”.
Kalau lapar, ya keluar cari makan atau masak sendiri.
Mau bepergian harus datang ke pangkalan ojek atau becak, atau menunggu taksi di pinggir jalan.
Belum ada aplikasi yang tinggal pesan, lalu makanan atau jemputan datang sampai depan rumah.
Sore hari terdengar suara anak-anak bermain di luar.
Ngobrol itu tatap muka.
Silaturahmi itu benar-benar datang ke rumah.
Sekarang hampir semua bisa dilakukan dari genggaman tangan.
Kalau kangen bisa video call, bahkan bisa “stalking”.
Belanja cukup lewat aplikasi.
Nonton acara kesukaan tidak harus nunggu hari dan jam tayang.
Lapar tinggal pesan makanan, tidak perlu keluar.
Bayar tagihan, kirim uang, bahkan urusan kerja pun banyak yang serba online.
Menurut Sobat ZD,
Apakah hidup sebelum semua serba online terasa lebih sederhana dan hangat?
Atau justru sekarang jauh lebih praktis dan memudahkan?
Silakan berbagi cerita dan kenangan masing-masing