Children of Heaven (Bachcha yeh Asmaan) 1997

Children of Heaven (Bachcha yeh Asmaan) 1997

Children of Heaven 1997.jpg

Tahun : 1997
Negara : Iran
Genre : Film keluarga
Sutradara : Majid Majidi
Durasi : 88 menit
Aktor : Amir Farrokh Hashemian
Bahare Seddiqi
Muhammad Amir Naji

Sinopsis

Ali (Amir Farrokh Hashemian) seorang anak laki-laki yang memiliki adik perempuan Zahra (Bahare Seddiqi) tinggal bersama kedua orang tuanya di kawasan miskin di selatan kota Teheran, Iran. Film ini dibuka dengan Ali yang akan mengambil sepatu adiknya yang sedang diperbaiki oleh tukang sepatu. Setelah selesai diperbaiki, Ali mampir untuk membeli kentang untuk kebutuhan keluarganya. Tanpa sengaja, kantong plastik hitam yang berisi sepatu adiknya tersebut terangkut oleh tukang sampah tanpa sepengetahuan Ali. Ali yang kemudian mendapati bahwa sepatu adiknya tersebut tidak ada lagi di tempatnya menjadi panik mencoba mencari namun tidak dapat menemukannya. Ketika pulang, Ali yang sedih menyampaikan kepada adiknya bahwa sepatu tersebut hilang. Adiknya menjadi sedih, namun mereka tidak mau menceritakannya kepada kedua orang tuanya, terlebih ibunya sedang sakit dan kondisi keuangan mereka juga tidak mencukupi.
Akhirnya Ali memutuskan agar Zahra memakai sepatunya saat sekolah -- kebetulan jam sekolah mereka berbeda, Zahra masuk pagi hari sedangkan Ali masuk siang hari -- di pagi hari dan setelah selesai, segera bertemu Ali dan Ali menggunakan sepatu tersebut untuk sekolah. Dengan kata lain, sepatu Ali digunakan secara bergantian oleh Ali dan Zahra. Hal tersebut berlangsung beberapa lama, diselingi kisah Ali yang juga membantu ayahnya untuk mendapat kerja sebagai tukang kebun di kawasan elit kota Teheran. Karena harus menemui Zahra di untuk bertukar sepatu, Ali harus berlari agar tidak terlambat masuk sekolah -- Zahra pun juga harus berlari agar Ali tidak terlambat. Namun meski demikian, dia tetap terlambat sehingga kepala sekolahnya menegurnya dan bahkan melarangnya masuk setelah tiga kali terlambat. Untunglah gurunya berhasil meyakinkan kepala sekolahnya untuk memberi kesempatan lagi, sehingga Ali dapat terus masuk sekolah.
Suatu saat, diselenggarakan lomba lari anak-anak sekolah dan hadiah bagi pemenang kedua adalah sepatu olah raga. Ali berjanji untuk memberikan sepatu tersebut kepada Zahra dan bertekad untuk menjadi pemenang kedua. Ternyata Ali -- yang karena rutin berlari untuk bertukar sepatu dengan Zahra -- justru menjadi pemenang pertama. Ali menjadi sedih saat pulang ke rumah karena tidak berhasil mendapatkan sepatu hadiah bagi pemenang kedua. Ali dan Zahra tidak tahu bahwa ayah mereka yang sedang dalam perjalanan pulang ternyata membeli sepatu baru bagi mereka berdua....

Resensi

Salah satu film terbaik yang pernah saya saksikan. Saya menyaksikannya sekitar akhir 1990-an atau awal 2000, diputar di salah satu televisi swasta, namun saya tidak ingat stasiunnya. Tapi film ini sangat membekas bagi saya.

Tema yang sangat sederhana, dua bocah miskin mensiasati masalah yaitu hanya memiliki satu sepatu dengan cara memakainya bergantian, namun justru ditampilkan dengan sangat kuat. Tema yang sederhana juga terasa membumi dan lekat dengan kehidupan kita -- yang berasal dari keluarga yang kurang mampu -- yang bagi sebagian kita yang lain -- dari keluarga yang berada -- mungkin hanya masalah kecil, namun menjadi plot yang sangat menggugah. Permainan kamera yang juga cukup cantik merekam kawasan miskin kota Teheran, lengkap dengan lorong-lorong dan gang-gang -- yang kontras dengan kawasan elit di mana ayah Ali bekerja sebagai tukang kebun. Demikian juga saat persiapan lomba lari, di mana digambarkan banyak peserta yang berasal dari kalangan berada, yang datang bersama keluarga besar, membawa kamera foto atau kamera video untuk merekam anak mereka yang berlomba -- yang dilengkapi dengan kostum dan sepatu mewah, sangat kontras dengan Ali yang datang sendiri, hanya didampingi guru sekolahnya. Meski demikian, itu semua digambarkan tanpa harus memiliki tendensi ketimpangan sosial yang melahirkan kebencian.

Jalinan kasih sayang antara kakak dan adik (Ali dan Zahra) antara anak dan orang tergambarkan secara sempurna tanpa perlu banyak dialog. Rasa sayang Ali kepada adiknya terlihat jelas sejak awal, cukup dengan ekspresi kesedihannya yang pekat saat menyampaikan kepada adiknya Zahra bahwa sepatunya yang baru diperbaiki hilang. Di pihak lain, rasa sayang Zahra kepada Ali juga terlihat -- antara lain -- ketika suatu saat Zahra berlari untuk menemui kakaknya guna bertukar sepatu, salah sepatu yang dikenakannya lepas -- tentu saja, karena ukuran sepatu tersebut jauh lebih besar dibandingkan ukuran kaki Zahra -- dan jatuh ke got dengan air mengalir. Ekspresi Zahra yang sedih dan cemas karena kawatir kakaknya tidak dapat menggunakan sepatu dan tidak dapat masuk sekolah, yang untungnya ada dua orang tua yang membantunya mengambil sepatu tersebut.
Cinta dan kasih sayang anak kepada orang tua dan sebaliknya juga terlihat tanpa harus banyak dialog atau ungkapan verbal. Ekspresi ayah Ali dan Zahra yang terkesan keras karena pendiam -- namun dapat terlihat, itu semua karena rasa sayangnya untuk mencukupi kebutuhan bagi istri dan anak-anaknya. Demikian juga rasa sayang anak-anak tersebut kepada orang tuanya, di mana mereka tidak ingin membuat kawatir orang tuanya karena kehilangan sepatu Zahra, sehingga Ali meminta Zahra agar jangan sampai ibu mereka mengetahui tentang kehilangan tersebut, mengingat ibu mereka sedang terbaring sakit.

Penggambaran kemiskinan keluarga tersebut juga tersampaikan dengan baik dan membekas jelas tanpa harus menjadikan film tersebut terjebak menjadi film cengeng. Lingkungan masyarakat setempat juga tergambarkan dengan sempurna, antara lain ketika dua bapak-bapak membantu Zahra mendapatkan kembali sebelah sepatu Ali yang kecemplung got dan terbawa arus got.
Tanpa adanya tokoh antagonis dalam film ini tidak menjadikan film ini hambar, karena memang suatu kisah dapat diangkat tanpa perlu adanya satu perselisihan antara pihak yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah.

Akting dari Amir Farrokh Hashemian dan Bahare Seddiqi sebagai tokoh utama juga sangat baik. Keduanya tampil apa adanya, alami sebagai bocah-bocah sekolah dasar yang masih lugu dan polos. Ekspresi Zahra (Seddiqi) yang berusaha agar kakinya tidak terlalu terlihat saat berbaris -- supaya tidak terlihat mengenakan sepatu anak laki-laki butut yang ukurannya terlalu besar di tengah-tengah sepatu teman-teman perempuannya yang manis dan cantik -- rasanya merupakan ekspresi yang pernah sebagian dari kita ungkapkan di masa bocah dulu. Juga ekspresi kesedihan Ali (Hashemian), saat ternyata dia menjadi juara I dalam lomba lari, sementara dia justru berharap menjadi juara II (supaya bisa mendapatkan sepasang sepatu olah raga baru), tampak begitu alami dan tulus sebagai ekspresi kesedihan seorang kakak yang tidak dapat memberikan sesuatu kepada adiknya.

Salah satu kekuatan lain dari film ini adalah permainan kamera yang ciamik sehingga tidak perlu banyak dialog untuk mengekspresikan apa yang ingin disampaikan.

Akhir film ini pun memberikan kelegaan pada penonton, karena ternyata ayah Ali dan Zahra dalam perjalanan pulang membawa dua pasang sepatu baru bagi kedua anaknya. Akhir yang happy ending tanpa harus dramatis seperti film-film Hollywood atau Bollywood. Karena frame terakhir justru memperlihatkan Ali yang duduk di kolam di depan kontrakan keluarganya, yang tampak sedih karena menjadi juara I lomba lari, dan membiarkan ikan-ikan mas kecil menggigiti kakinya yang dicelupkan ke kolam tersebut.

Satu-satunya kelemahan film ini -- jika memang ada -- sebenarnya ini justru kelemahan saya, adalah saya tidak mengerti bahasa aslinya, yaitu Bahasa Parsi. Tentu akan sangat sempurna jika memahami dialog dalam bahasa aslinya ketimbang bahasa terjemahan, meskipun bahasa terjemahan pun sudah sangat mengaduk-aduk emosi saya.

Menonton film ini, saya terkadang terdiam termangu, tersenyum dan tertawa kecil, serta menangis.
 
Top