Buku dan Film

Film Serendipity (2001)
659e4c40edfc4cf15b23137642fe1707.webp

Serendipity adalah film komedi romantis Amerika Serikat tahun 2001 yang dibintangi oleh John Cusack (sebagai Jonathan Tragger) dan Kate Beckinsale (sebagai Sara Thomas). Film ini mengikuti sepasang kekasih yang mengandalkan takdir setelah pertemuan kebetulan di New York.


Jonathan dan Sara bertemu secara kebetulan saat mencoba membeli sarung tangan yang sama di pusat perbelanjaan Bloomingdale's, New York pada malam Natal. Sara menuliskan nomor kontaknya di dalam sebuah buku dan berjanji jika mereka ditakdirkan bersama, buku itu akan menemukan jalan kembali ke Jonathan. Buku tsb adalah Love in the Time of Cholera ditulis o/ pemenang Nobel Prize–Gabriel García Márquez dan terbit th 1985.
gabriel.webpgabriel2.webp
 
pulau ini pernah berfungsi sebagai tempat karantina wabah pes pada abad ke-14 dan rumah sakit jiwa (1922-1968
Mengkaitkan pulau yg dijadikan RS Jiwa teringat dengan film Shutter Island (2010) menurut gw ini film paling absurd seperti cerita Dick Herisson, bener2 karya luar biasa. Film ini diadaptasi dari novel berjudul sama karya Dennis Lehane yg terbit tahun 2003.
Lehane memang terinspirasi oleh rumah sakit dan lahan di Long Island di Pelabuhan Boston untuk model rumah sakit dan pulau tersebut. Tapi Pulau Pevoglia juga memiliki kisah kelam yg kurang lebih mirip, konon selama masa operasional rumah sakit jiwa tersebut, beredar cerita legenda mengenai perlakuan tidak manusiawi Dokter2 terhadap pasien dengan melakukan praktik eksperimental seperti lobotomi ilegal. Dokter ini dikabarkan meninggal bunuh diri setelah melompat dari sebuah menara di rumah sakit jiwa, karena tidak tahan digentayangi penunggu pulau.
Kembali ke Shutter Island cerita soal Marshall Teddy yg sedang melakukan penyelidikan praktik lobotomi di rumah sakit tersebut merupakan cerita Versi 1 (pendapat gw pertama kali nonton utuk bukunya belum pernah baca)
Vesi 2 yg sebenarnya (baru tau setelah baca sinopsis2) adalah pengungkapan bahwa Teddy bukanlah seorang Marshall, melainkan seorang pasien di Shutter Island, novel tersebut berakhir dengan nada muram ketika sang tokoh mengakui kejahatannya dan memilih untuk menjalani perawatan lobotomi eksperimental daripada hidup dengan rasa bersalahnya.
Dalam film, ceritanya sedikit berbeda. Teddy berpaling ke "mitra" Marshall-nya, Chuck (yg sebenarnya adalah seorang dokter yg ikut bermain dalam delusinya) dan berkata " apakah lebih baik mati sebagai orang baik atau hidup sebagai monster ??". Mitranya dihantui oleh pertanyaan tersebut, karena hal itu menyiratkan bahwa Teddy mungkin mengetahui jati dirinya yg sebenarnya dan mungkin memilih lobotomi secara sengaja, atau dia mungkin hanya mengalami momen kesadaran sesaat dan masih tersesat dalam delusinya. Akhir cerita, tidak seperti novel aslinya, membiarkan hal ini ambigu.
Dan film Shutter Island adalah film genre thriller psikologis yg terbaik yg pernah gw tonton.
 
Back
Top